Menurut saya, tidak akan ada yang namanya presiden kalau tidak ada guru.
Setiap manusia pasti mempunyai seseorang yang memiliki pengaruh dalam hidupnya, baik pengaruh yang didapat secara langsung karena orang itu sempat bertatap muka dan berinteraksi, ataupun pengaruh yang didapat secara tidak langsung, seperti yang didapatkan karena kita membaca buku biografi tokoh, atau bahkan hanya karena mengagumi orang tersebut.
Bagi saya, ada beberapa kelompok orang yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam kehidupan saya. Di luar tokoh yang sudah seharusnya menjadi panutan saya –Rosululloh SAW-, orang tua dan teman memberikan kontribusi dari pengaruh yang membentuk hidup saya, di mana kontribusi lainnya diberikan oleh guru-guru yang pernah mengajar saya.
Proses sosialisasi dimulai dari orang tua, karena memang orang tua yang ada di samping seorang anak semenjak dia lahir, namun ketika sang anak memulai proses pendidikan formalnya, posisi orang tua terbagi dengan posisi guru. Porsinya mungkin tidak terlalu banyak ketika jenjangnya masih di tingkatan sekolah dasar, tetapi ketika menginjak sekolah lanjutan tingkat pertama interaksi dengan guru akan lebih banyak dibandingkan interaksi dengan orang tua.
Saya lahir dan dibesarkan di daerah yang agak jauh dari keramaian, bukan daerah yang elit. Bisa dibilang hanya sebuah kampung –memang disebut kampung rawa-. Sekolah dasar juga tidak jauh-jauh dari rumah, hanya SD Negeri biasa. Kemudian orang tua saya yang menginginkan saya dan juga kakak saya melanjutkan pendidikan ke SLTP yang menurut mereka tidak biasa, dalam artian SLTP yang bermutu baik. Pilihan dijatuhkan ke sebuah sekolah yang terletak di wilayah Salemba Raya, SLTPN 216 Jakarta.
Pilihan tersebut, membuat perubahan dalam hidup saya, yang paling sederhana ialah saya mulai terbuka dengan tempat-tempat baru –Salemba, Matraman, Kramat, Percetakan Negara- setelah sebelumnya yang saya tahu cuma Johar Baru – Kampung Rawa – Tanah Tinggi. Dan betapa cara pandang saya juga sangat-sangat berubah, karena ternyata yang masuk ke SLTP tersebut merupakan anak-anak terbaik dari SD-SD yang juga terbaik dari seluruh Jakarta. Dan yang pastinya, penyebab utama kenapa SLTP tersebut menjadi unggulan selain dari bibitnya yang memang sudah baik adalah kualitas pengajarnya yang juga sangat baik.
Wali kelas saya yang pertama di SLTP tersebut adalah ibu Edeh Djubaidah. Guru matematika favorit saya, salah satu pembentuk pondasi perubahan dalam hidup saya, bagaimana beliau memotivasi saya, mentransfer ilmunya kepada saya, membuka wawasan saya bukan hanya di bidang matematika tetapi juga di dalam ilmu pasti lain (beliau juga pembina ekstrakurikuler KIR). Sangat berkesan buat saya.
Sebenarnya saya ingin menceritakan satu persatu guru-guru di SLTP tersebut yang telah memberikan ilmu terbaiknya untuk saya, tapi sepertinya cerita ini nanti akan berkembang ke arah yang tidak jelas. Yang pasti beberapa guru sangat berbekas di ingatan saya, Ibu Nurliza Sianturi, Bapak SIhar Alimusa Hutabarat, Bapak Johanes D Doren, Bapak Bambang (kedua-duanya), Ibu Tetty Helena, Ibu Lily, dan Ibu Made mungkin sebagian nama yang masih saya ingat dengan baik cara mengajar mereka dan bagaimana mereka membimbing saya. Terima kasih untuk semua jasa-jasa yang telah engkau berikan. Saya tidak akan seperti saat ini tanpa adanya Ibu dan Bapak semua.
Tulisan ini saya tulis karena malam ini saya dapat berita bahwa salah satu guru di SLTPN 216 meniggal dunia, sebenarnya bukan termasuk salah satu guru yang pernah mengajar saya, tetapi tetap saja sekali dia guru, bagi saya dia juga guru saya walaupun tidak pernah secara langsung mengajar saya. Rasanya sedih kalau mendengar berita seorang guru berpulang, saya langsung berfikir kalau ada guru yang meninggal betapa Indonesia sudah kehilangan salah satu putra atau putri terbaiknya yang mau mengabdi sebagai guru. Walaupun akan ada penggantinya, tetapi guru tersebut yang saya tau dan saya kenal kemampuannya.
Guru, sampai kapanpun seorang guru ya akan tetap jadi guru. Guru yang pernah mengajar saya sewaktu SD kelas dua dulu -Ibu Intan- sampai detik inipun masih mengajar. Tidak akan pernah berhenti, tidak akan pernah mau berhenti memberikan ilmunya kepada putra putri bangsa ini sampai nanti ia sudah tidak mampu lagi untuk membagikan ilmunya.
Selamat jalan untuk pak Jimson Purba, kami akan selalu mengenang bapak.


